I LOVE MY JOB
21 March 2018 422 Views

I LOVE MY JOB

Kalau cinta sudah melekat…
Gula Jawa rasa cokelat..

Kutipan lirik lagu ‘Cinta Anak Kampung’ yang dinyanyikan Jamal Mirdad dan pernah hits pada tahun 1990-an tersebut menggambarkan seseorang yang sedang dimabuk cinta.

Semuanya akan terasa lebih indah, lebih enak, lebih nyaman. Walau jarak sebenarnya jauh, akan terasa jadi lebih dekat; berat terasa jadi ringan; sulit akan terasa jadi lebih mudah.

Itulah cinta. Sampai-sampai orang Jawa punya ungkapan wingka katon kencana, pecahan genteng tampak seperti emas.

Seandainya apa yang kita lakukan didasari rasa cinta, niscaya akan terasa lebih ringan dan nyaman. Menuntut ilmu, contohnya. Bila seseorang telah mencintai ilmu maka akan terus belajar dan belajar. Ia tidak mengenal usia dan tempat.

Belajar bisa sampai kapan saja, hingga berakhir usia kita nanti. Belajar tidaklah mesti di bangku sekolah atau kuliah. Tidak sedikit, orang sukses yang pendidikan formalnya pas-pasan.

Ada juga orang yang belajar dari kehidupan sehari-harinya. Teramat banyak ilmu di sana. Banyak orang menjadi bijak karena hal yang satu ini. Dia berhasil menjadikan apa yang setiap hari dijumpai sebagai sarana belajar untuk mendewasakan diri.

Beribadah karena cinta? Tentulah akan berbeda rasa dan energinya. Saat beribadah, ia tidak lagi melakukannya karena iming-iming surga atau karena takut ancaman siksa neraka. Kalau sudah beribadah karena cinta, tentu tidak mengharap balasan itu semua. Kalau sudah sampai level ini memang luar biasa. Dia hanya mengharap ridha dari pemilik surga dan neraka itu sendiri.

Dia beribadah karena faktor cinta kepada diri sendiri. Dia buktikan itu dengan berperilaku baik dan tidak menganiaya diri sendiri.

Cinta kepada sesama, dia buktikan dengan berbagi kepada sesamanya. Apa saja yang dia miliki, baik itu harta, ilmu, dan potensi yang dimiliki, akan digunakan sebaik-baiknya untuk sesama.

Hal yang dia harapkan tentu semata-mata cinta dari Yang Maha Menciptakan cinta. Dia tidak lagi mengharapkan surga, karena yang dia harapkan adalah pemilik surga itu sendiri. Tentu Dia lebih tahu di mana akan memberikan tempat terbaik untuk para pencinta-Nya.

Bekerja didasari cinta tentu tidak ada lagi beban, rasa malas, terpaksa, apalagi perilaku tidak terpuji. Justru sebaliknya. Muncul semangat, rela berkorban, totalitas, dan merasa ikut memiliki. Namun, dalam praktiknya, menumbuhkan dan menghadirkan cinta ke dalam pekerjaan tidaklah mudah.

Semua mesti diawali dengan mengubah cara pikir kita. Banyak di antara kita yang masih beranggapan, bekerja terbatas pada hitungan hak dan kewajiban. Lebih parah lagi, kalau sudah sampai ada ungkapan, “Ketimbang bengong di rumah saja.” Tidak ada spirit sama sekali. Tidak lebih dari sekadar P4 atau Pergi Pagi Pulang Petang.

Pada beberapa kesempatan, sering saya sampaikan kepada tim saya bahwa dalam bekerja kita harus benar-benar untung. Artinya, akan sangat merugi kalau minimal 8 jam setiap hari yang kita habiskan di tempat kerja tanpa ada sesuatu yang berharga.

Keuntungan di sini tentu beragam jenisnya. Dari segi ilmu, hendaknya dari waktu ke waktu, ilmu dan kemampuan kita juga mesti selalu bertambah. Masa sudah bekerja lebih dari 5 tahun masih sama saja kemampuannya dengan ketika masih setahun.

Keuntungan berikutnya adalah dari segi income atau penghasilan. Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu tujuan bekerja adalah mencari penghasilan. Saya pastikan bahwa bekerja di perusahaan yang saya kelola, terbuka kesempatan untuk hal satu ini. Artinya, kontribusi karyawan diperhatikan dan diperhitungkan.

Barangsiapa yang bisa memainkan peran lebih besar atau dengan kata lain mempunyai kemampuan yang lebih jika dibanding dengan yang lain maka dia akan terus melenggang untuk lebih maju. Tidak ada seorang pun yang bisa membendungnya.

Sudah banyak contoh akan hal ini. Dulu yang belum siapa-siapa, kini sudah memikul tanggung jawab lebih besar. Ada yang menempati posisi Kepala Bagian Produksi, Kepala Bagian Marketing, Asisten Kepala Unit atau Kepala Unit.

Ketika pertama kali masuk, ada yang masih minim pengalaman, fresh graduated. Siapa sangka, selang beberapa waktu ia sudah bisa mengambil peran signifikan dan keberadaannya diperhitungkan.

Kompetisi untuk maju sangat terbuka dan fair. Saya tidak pernah memandang latar belakang sebelumnya. Lulusan apakah dia, asal dari manakah dia, sudah berapa lama dia bekerja, tidak jadi soal. Semua mempunyai peluang dan kesempatan yang sama. Walaupun sudah bertahun-tahun bergabung namun kemampuannya tidak berkembang, dengan sendirinya dia akan tersingkir dalam kompetisi menuju puncak.

Keuntungan selanjutnya adalah segi ruhani-spiritual. Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, dengan bekerja hendaknya kita juga bisa lebih meningkat dari sisi spiritual menjadi lebih bijaksana.

Dalam bekerja tentu banyak berhubungan dengan individu-individu lain. Beragam pula karakternya. Mestinya kita semakin paham dan lebih dewasa dalam bersikap. Dalam bekerja sudah pasti tidak akan selalu mulus dan berhasil. Pasti akan ada kendala dan masalah di sana. Kendala dan masalah ini hendaknya menjadi pelajaran sekaligus guru kita. Kita mesti bisa jadi lebih bijaksana dan mengambil hikmah darinya.

Bekerja adalah bagian dari ibadah. Banyak orang mengatakan demikian. Saya pun setuju dengan ungkapan itu. Bahkan saya memahaminya lebih dari itu. Bukan sekadar bagian, tapi justru bekerja termasuk ibadah utama.

Banyak yang beranggapan bahwa ibadah utama orang Islam hanyalah sholat, puasa, zakat, dan haji. Namun sebenarnya, berbuat baik, menghibur hati orang lain yang sedang dirundung kesedihan, memberi solusi bagi yang sedang bermasalah, tidak kalah hebatnya.

Coba kita amati, dari semua ibadah yang saya sebut di awal tadi, ujung-ujungnya, dengan berbuat kebaikan untuk sesama. Sholat diakhiri dengan salam, mengandung makna mendoakan, menebarkan kebaikan dan keselamatan untuk kanan kiri kita.

Pun demikian dengan ibadah puasa. Termasuk tujuan dari puasa adalah agar kita bisa merasakan beratnya orang papa, di mana untuk urusan makan saja tidak selalu tersedia. Dari sini diharapkan muncul empati. Ibadah puasa ditutup dengan zakat fitrah untuk membersihkan jiwa kita. Lagi-lagi berbagi kepada sesama.

Demikian pula dengan ibadah haji. Ketika melakukan rukun haji, apabila terjadi pelanggaran maka harus mengeluarkan dam atau denda. Mengeluarkan sebagian harta untuk dibagikan kepada orang lain yang tidak mampu. Sekali lagi, berbuat baik dan membawa kemanfaatan kepada sesama jelas lebih utama. Dengan kata lain, saleh sosial jauh lebih hebat daripada saleh pribadi.

Dalam bekerja, kita bisa mendapatkan keuntungan berupa pahala berlipat-lipat. Sama halnya dengan sistem MLM (Multi Level Marketing). Kita akan mendapatkan keuntungan sebanyak kebaikan yang dilakukan oleh tim kita, mitra kerja kita, dan bahkan dari semua keluarga mereka. Intinya, dari semua yang merasakan manfaat atas keberadaan usaha yang kita lakoni.

Berapa orang yang bisa makan, bersekolah, dan beribadah, karena mereka mendapatkan hasil dari pekerjaan yang kita berikan kepada mereka?

Coba pahami dan rasakan benar, berapa orang yang bisa bekerja ketika marketing mampu menghadirkan order 1 kontainer? Berapa banyak orang yang bisa makan, karena bagian produksi menerbitkan SPK, QC yang menginspeksi barang, keuangan yang bermain-main dengan angka dan urusan bank, dan Satpam yang siang malam menjaga tempat kerja kita?

Akan sangat menguntungkan dan merupakan ladang kebaikan bagi kita apabila kita niati semua yang kita lakukan sebagai ibadah. Sebagai wujud rasa syukur kita kepada Yang Maha Mencipta.

Alangkah malangnya kita kalau dalam bekerja tidak kita pahami sampai sedalam ini. Sungguh teramat banyak kemuliaan bisa kita peroleh dalam bekerja. Akan sangat merugi kalau dalam bekerja kita isi dengan rasa iri terhadap teman sendiri. Mengambil keuntungan untuk pribadi atau pun tindakan yang kurang terpuji lain.

Bekerja adalah jihad yang nyata. Dengan bekerja inilah wujud tanggung jawab kita sebagai pribadi dan keluarga yang kita punyai. Tidaklah mengherankan sampai ada penghargaan kalau kita meninggal dunia ketika kita bekerja, termasuk meninggal dengan syahid.

Untuk itu, saya selalu mengajak semuanya untuk lebih mencintai pekerjaan kita. I Love My Job

Suwantik Yoso Sumarto

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply